Beda Kontraktor dan Pemborong bangunan

Jasa kontraktor dan pemborong bangunan sama-sama bisa dimanfaatkan untuk merenovasi atau membangun rumah. Keduanya pun bisa sangat berpengalaman dan andal dalam menyediakan jasa bagi proses pengerjaan rumah. Namun, apakah yang menjadi perbedaannya? Mari menelisik lebih jelas.

Pada umumnya, jasa kontraktor bangunan mensggunakan sistem pembayaran termin atau bertahap. Sementara itu, jasa pemborong bangunan mengunakan dua sistem pembayaran, yakni harian dan borongan.

Sistem pembayaran termin bisa ditetapkan langsung oleh kontraktor atau disesuaikan dengan pemilik proyek. Bergantung pada  kesepakatan yang disetujui. Bisa sebanyak dua tahap atau lebih, dengan persentasi tertentu. Misal, 25 persen per 4 tahap, atau dua tahap dengan besaran 60 dan 40 persen.

Untuk pembiayaan yang ditetapkan pemborong, sistem harian berarti hanya membayar upah pekerja per hari. Dengan kata lain, Anda perlu menyiapkan bahan dan keperluan material sendiri sesuai yang telah disepakati bersama pemborong bangunan tsb.

Penetapan upah tersebut tergantung kesepakatan dengan pemborong, sesuai nominal standar. Misal upah tukang di Jakarta saat ini bisa mencapai Rp175 ribu per hari. Mengenai waktu pembayarannya, pemborong punya ketentuan sendiri yang umumnya dibayarkan tiap seminggu sekali.

Sementara sistem borongan, artinya pembiayaan dibayar penuh di muka. Ini bisa berupa borongan penuh untuk upah pekerja dan bahan bangunan, atau hanya upah pekerjanya saja.

Tentu, sistem pembayaran borongan memperlihatkan untung rugi. Keuntungannya, Selain tak perlu repot ambil pusing alias tinggal menyampaikan keinginan soal bangunan rumah kepada pemborong bangunan tsb, Anda yang memiliki budget minim bisa lebih mengeksplorasi kesesuaian harga.

Terlebih lagi, Anda yang mendadak ingin ganti rancangan desain rumah, bila hanya mengupah tukang, tidak akan terhambat masalah pendanaan.

Secara menyeluruh, Anda bisa mengestimasi besaran biaya hingga akhir, sesuai budget yang Anda siapkan. Pun dapat memperkirakan lamanya proses pengerjaan bangunan, yang biasanya lebih cepat.

Sayang, kesesuaian seperti itu bersyarat.  Selain harus mengecek rutin pekerjaan tukang, Anda juga perlu menyurvei sendiri segala kebutuhan agar tidak terjadi kecurangan.

Pembeda lainnya yang paling kentara adalah masalah perizinan. Biasanya, pemborong bangunan hanya mengandalkan kesepakatan lisan dengan pemakai jasanya alias tidak memiliki hitam di atas putih. Penyedia jasa ini juga tidak memiliki izin usaha resmi  ataupun berbadan hukum.

Beda halnya dengan kontraktor. Selain memiliki sertifikasi atau perizinan resmi alias berbadan hukum, jasa kontraktor seperti di http://putrajaya1.com juga mencantumkan Surat Perjanjian Kontrak Kerja (SPK) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Fungsi RAB dan SPK tak lain untuk memperinci kejelasan pekerjaan, demi mengikat hubungan kerja antara pelanggan dan penyedia jasa.

Alhasil, dampaknya bisa terasa. Andaikan terjadi kesalahpahaman dan perselisihan, apalagi kecurangan dan penipuan, Anda bisa merujuk pada SPK jika bekerja sama dengan kontraktor. Sementara bagi pengguna pemborong bangunan, akan sulit memperkarakan masalah hingga ke ranah hukum.